Mompreneur Itu Beda!

Tulisan yang saya buat ini merupakan terjemahan dan penulisan ulang dari artikel Lisa Druxman dari Entrepreneur.Com.

Menarik. Dia mengawali artikel satu ini dengan pertanyaan: Apakah seorang 'mompreneur' berbeda dari kebanyakan pengusaha?

Kalau ya. Apakah perbedaan itu?

Menurut Lisa, 'mompreneur' itu berbeda. Dan perbedaannya termuat dalam 4 hal berikut ini.

Asal muasal inspirasi bisnis mereka. Banyak ibu-ibu yang mulanya tidak bermaksud untuk berbisnis. Namun, mata 'keibuan' mereka sering menangkap kekurangan disana-sini, kebutuhan yang seharusnya bisa terpenuhi namun belum tersedia di pasaran. Nah! peluang ini ditangkap lalu dikembangan menjadi bisnis.

Saat saya memproduksi baju koko untuk bayi pun awalnya demikian. Saya ingin agar bayi laki-laki saya mengenakan baju koko untuk lebaran, namun setelah mencari sana-sini, produk untuk bayi ternyata tidak ada. Akhirnya saya membuat sendiri, ternyata menarik. Ketika menjajal produk ini untuk dipasarkan, rekasinya sungguh menyenangkan.

Namun sering juga, bukan barang atau jasa yang menginspirasi para ibu ini. Tapi keinginan untuk dirumah bersama anak-anak sesering mungkinlah yang menjadi pendorong. Rasanya, ini juga bisa disebut sebagai rasa keibuan bukan?

Cara mereka bekerja. Ibu-ibu yang menjalankan bisnis dari rumah sepertinya tidak memiliki jam kerja yang sama satu dengan lainnnya. Fleksibel saja. Rata-rata para ibu dengan anak yang masih bayi, atau balita, akan bekerja selama balita mereka tidur atau saat mereka bersama pengasuhnya. Kadang juga para ibu ini membawa serta alat-alat komunikasinya ke tempat bermain dan berbisnis dari sana. Anak dan keluarga selalu diletakkan di nomor pertama.

Yang menarik, para ibu ini biasanya bekerja nyaris 24 jam. Saat bersama anak-anak, mereka biasanya memikirkan pekerjaan. Saat bekerja, pikiran pun selalu terbang pada anak-anaknya. Apakah Anda juga?

Ruang kerja mereka. Kebanyakan 'mompreneur' bekerja dari rumah. Mereka juga membiasakan diri untuk bisa bekerja di dan dari mana saja. Ruang kerja para 'mompreneur' ini biasanya virtual. Kita bisa menemui mereka saat bekerja dari kafe, perpustakaan umum, ruang tunggu taman bermain anak, atau di pusat perbelanjaan. Andaikan memiliki semacan kantor, maka desainnya akan dibuat nyaman untuk kehadiran anak-anak disana. Bagaimakah kantor-rumahan Anda?

Alasan mereka bekerja. Banyak alasan yang membuat seorang ibu masuk dalam bisnis rumahan. Beberapa ingin membantu perekonomian keluarga. Beberapa yang lain ingin mencoba untuk berprestasi, beraktualisasi diluar dunia rumah tangga. Ada juga yang ingn menciptakan semacam perubahan dalam dunia karir. Meski banyak juga yang pada akhirnya sukses dan memiliki penghasilan besar, namun tidak sedikit yang tidak terobsesi pada uang. Titik ini yang sangat membedakan 'mompreneur' dengan pengusaha biasa.

Di era internet ini, rasanya makin banyak para bunda yang akhirnya menceburkan diri dalam ndustri/bisnis rumahan. Saya turut berbahagia melihat semakin banyak kaum ibu yang bisa melakukan dua hal sekaligus: bisa merealisasikan impiannya, dan tetap menjadi ibu rumah tangga.


FunWork Mom,

Andinie Sunjayadi
-owner of KokoMungil.Com
and FunWork lover-

RDBSAPP

Sayang rasanya kalo tidak memposting tentang RDBSAPP ini. Postingan satu ini lebih saya posisikan sebagai pengingat bagi diri saya sendiri ketimbang bagi pembaca.

Rangkaian huruf RDBSAPP ini pertama kali saya temukan dalam sebuah blog yang dengan setia selalu saya kunjungi. Singkatannya adalah sebagai berikut:

R : Reason D : Dreams B : Belief S : Strategy
A :
Action P : Persistence P : Pray

Sebagai pebisnis, dan menurut saya sebagai manusia yang ingin mencapai titik kesuksesan apa pun, RDBSAPP ini harus kita miliki.

Titik R ini menarik, sebab dalam banyak kajian, kegagalan atau kesuksesan sering dikatakan sebagai imbas dari besar/kecilnya dreams yang kita miliki. Sejak membaca tulisan di blog tersebut, saya sadar, bahwa seringnya saya menunda untuk melakukan action lebih karena lemahnya reason.

Alasan. Saya sering (rasanya) sering kekurangan vitamin yang satu ini...
Mungkin karena zona yang sangat nyaman, di rumah, dinafkahi dengan baik, bersenang-senang dengan anak-anak... saya jadi kurang gigih. Ah... :-(

Kenapa Jadi WAHM?

Istilah WAHM alias working at home mother sebenarnya baru saya kenal. Tapi istilah ini langsung mak nyuus, masuk ke hati dan membuat saya merasa terwakili. Kenapa? Sebab selama ini saya mencoba mencari "bentuk" dari impian saya, yang kira-kira begini: mandiri, sukses, punya keleluasaan finansial dan waktu untuk anak-anak dan suami. Kira-kira sebentuk karir apa yang harus saya jalani bila mimpi itu ingin saya raih? Begitulah saya membatin selama bertahun-tahun (sejak sebelum nikah, hehe..)

Alhamdulillah, tawaran untuk meraih mimpi ini justru datang dari komunitas online yang baru saya kenal November 2006 lalu. Saya jadi pede dan bersemangat buat meraih mimpi itu.

Saya tidak mengatakan bahwa berkarir diluar rumah itu buruk bagi perempuan yang sudah menikah dan menjadi bunda. Tapi bagi saya, kehadiran Danish merubah banyak hal, pola berpikir, perasaan, identitas dan pola hubungan sosial saya. Keluarga jadi nomor satu.

Tapi diri saya sendiri, bukankah perlu aktualisasi?

Ya! Jadi kenapa tidak menjadi WAHM saja?

I am proud of being a work at home mother, Andinie
-owner of KokoMungil-

Gagal. Apakah Benar Awal Sukses? Atau Akhir Khilaf?

Salah satu anggota keluarga saya saat ini sedang bangkrut. Bisnisnya gagal. Relasinya berlarian menjauh. Dia kini pengangguran total. Berpenghasilan nol rupiah. Sepertinya, harga diri dan jiwanya pun sedang terserak-serak. Saya ikut sedih, sangat sedih.

Sebelumnya, dia sukses. Bergelimang uang. Uang menarik uang, begitulah kesehariannya. Namun dalam sekejap keberlimpahan itu musnah.

Saya, dulu juga pernah bangkrut. Beberapa tahun lalu, saya diamanahi modal buat mendirikan kios foto copy. Karena letaknya dalam kampus, bisnis ini laris manis. Saya, mungkin karena masih ABG, jadi khilaf. Belanja saya jadikan hobi. Setiap hari saya mentraktir teman-teman, belanja ratusan ribu. Menggampangkan pengeluaran. Pikir saya ketika itu, "Ah, besok juga duit masuk lagi". Saya lama-lama lupa bahwa kertas, toner, dan gaji harus dibayarkan rutin. Listrik dan ruangan juga ada biaya sewanya. Lalu saya mulai berhutang. Hutang menarik hutang, begitulah akhir cerita bisnis saya. Bangkrut. Aset yang ada dijual, uang hasil penjualan bahkan tidak sempat saya pegang. Penagih hutang sudah lebih dulu pasang badan diantara saya dan pembeli. Uang itu hanya sempat saya baca nilai nominalnya dan saya tanda tangani tanda terimanya. Rasanya muka ini berat sekali ditengadahkan... Malu!

Kembali ke kerabat dekat saya tadi. Yang saya dengar, sejak sukses, dia jadi "asal-asalan". Malas mengelola bisnisnya. Pilih kasih terhadap karyawan. Tidak setia terhadap rekan bisnisnya. Tipu-tipu sana-sini. Dan banyak lainnya... (Ah, saya sedih harus menulis ini).

Logis bagi saya, kalau dulu saya gagal. Logis juga, kalau kerabat saya itu gagal. Kami memang tidak amanah.

Lalu saya membandingkan kami dengan ratusan cerita gagal seseorang sebelum akhirnya sukses. Akankah kami termasuk dalam daftar yang ratusan itu? Benarkah gagal adalah awal kesuksesan? Atau gagal memang akhir dari kekhilafan?

Bagaimana para juara, yang dulunya pernah gagal, menyikapi kebangkrutannya? Apakah mereka gagal karena tantangan bisnis yang sedemikian berat hingga, sesaat kalah? Atau seperti saya yang khilaf? Bila ya, lalu bagaimana mereka membersihkan dosa-dosanya? Mencuci dirinya? Lantas meraih kekuatan untuk mulai lagi, dan sukses!

...sudah lama sekali, tapi ah, masih segar dalam ingatan, bagaimana Allah "memaksa" saya membersihkan diri...

Saya sedang mencoba bangkit lagi. Mohon doa.

Andinie

-Owner of KokoMungil-

Apakah Saya Siap?

Apakah Saya Siap?

Pertanyaan ini terus menggantung dihati. Memulai bisnis, artinya harus mengalokasikan sekian persen waktu saya, yang rasanya sudah begitu sesak, untuk mengurus bisnis itu.

Lainnya, saya harus berhemat. Sebab bisnis yang saya bangun ini berawal dari sedikit modal yang dikucurkan suami sebagai hadiah. Namun selanjutnya, saya diminta mengalokasikan sendiri tambahan modal dari uang belanja yang dipercayakan suami untuk saya kelola.

Tambahan, pilihan untuk berbisnis baju koko bayi bukanlah arena bisnis yang saya kenal. Saya baru masuk di bisnis ini. Pilihan untuk berbisnis online juga bukan berdasarkan pengalaman, hanya ketetapan hati untuk tetap bekerja dari rumah yang membuat saya memilih online store sebagai tempat pajangan dagangan saya. Keberanian terbesar saya datang dari pengamatan berbulan-bulan atas aktivitas di milis Bundainbiz, komunitas para bunda yang memilih bekerja dari rumah.

Apa yang membuat saya berani?

Impian.

Saya selalu bermimpi tentang kesuksesan. Kemandirian. Kemampuan untuk mencapai sesuatu.

Saya juga selalu bermimpi untuk tetap dirumah, mengasuh anak-anak saya, menemani dan melayani suami sepanjang beliau ada di rumah.

Dapatkah saya meraih kedua mimpi tersebut?

Saya tidak tahu. Tapi kalimat dari Napoleon Hill menguatkan saya

Do not wait; the time will never be ''just right.''
Start where you stand, and work with whatever tools you may have at your command,
and better tools will be found as you go along

Bagi siapapun yang ingin memulai sesuatu yang penting dalam hidup mereka. Selamat mencoba!

Salam Sukses,

Andinie

Owner of KokoMungil


Mengelola Energi

Sebuah email menarik masuk ke mailbox saya. Topiknya tentang cara mengelola energi demi mencapai kondisi optimal dalam bekerja yang mengambil sumber dari Anthony Dio Martin. Ternyata, dalam mengelola energi, prinsipnya bukan banyaknya waktu yang dihabiskan namun banyaknya energi yang kita curahkan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Bekerja satu jam dengan energi 100% akan sama efektif dengan bekerja dua jam tapi hanya 50% energi yang dicurahkan.

Waktu kerja yang lama tidak identik dengan produktivitas. Tantangannya adalah bagaimana kita mampu mengerjakan berbagai pekerjaan sesuai target dengan waktu yang terbatas. Pada titik inilah manajemen energi menjadi penting. Kita akan mampu bekerja dengan baik bila menggunakan energi secara total, ini kuncinya.

Ada tiga tips penting dalam mengelola energi ini:

  1. Menghindari banyaknya kebocoran emosi. Kondisi ini terjadi bila kita tidak fokus. Kita bekerja hanya setengah hati. Tubuh beraktivitas, namun pikiran dan hati melayang ke urusan lain. Banyak eksekutif sukses karena kemampuan mereka mengatasi kebocoran emosi ini.
  2. Kemampuan untuk tidak menunda. Menunda pekerjaan (procrastination) merupakan kebiasaan yang menghabiskan banyak energi tanpa hasil.
  3. Tidak menunggu saat tepat untuk memulai. Biasanya kita menunggu mood yang tepat bila akan bekerja, padahal mood selalu datang dan pergi tanpa dapat diduga. Sebaiknya mulailah pekerjaan sekarang juga, paksalah diri kita. Kalaupun merasa tidak nyaman, mulailah dengan standar pekerjaan yang rendah, seperti membuat draft (bila anda penulis), atau hal-hal ringan lain sembari membangkitkan mood. Bila mood kerja yang kondusif telah didapat, pekerjaan yang telah kita mulai tadi dapat dipoles dan disempurnakan.

Disiplin. Kata ini memang ajaib bila diaplikasikan dalam hidup. Disini, sikap contra agere –melawan kecenderungan negatif- amat diperlukan. Bila cenderung menunda, lawanlah dengan bekerja secara total.

Jadi, bisakah kita simpulkan bahwa pengelolaan energi sebenarnya adalah pengelolaan atas kualitas hidup kita?

Selamat belajar mengelola energi. Semoga bermanfaat.


Salam, Andinie

-Owner of KokoMungil-



My Desk, Our Desk




Beginilah kira-kira bentuk meja kerja saya, kami. Berantakan memang, hehehe... Di meja ini, saya dan Achmad bergiliran bekerja. Biasanya saya bekerja saat Danish tidur siang dan menjelang tengah malam. Sedangkan Achmad kerja kapan saja dia dikejar deadline ide yang mulai membludak di kepalanya.